Translate

Selasa, 23 Agustus 2016

Siapakah Ahlusunah wal Jamaah ?

Dengan semakin jauhnya zaman kita saat ini dengan zamannya baginda Nabi Muhammad Shollallaah ‘alaih wa sallam dan para sahabat, dan juga seiring dengan perkembangan dinamika masyarakat, maka dewasa ini sering kita lihat peselisihan di antara kaum muslimin sendiri. Terhadap permasalahan ini, Baginda Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam sudah memberikan pedoman bagi kita agar mengikuti as-sawaad al-a’zhom (jama’ah kaum muslimin yang terbanyak), karena kesepakatan mereka (as-sawaad al-a’zhom) mendekati ijma’, sehingga kemungkinan keliru sangatlah kecil.

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺍﻟﺪﻣﺸﻘﻲ . ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﻮﻟﻴﺪ ﺑﻦ ﻣﺴﻠﻢ . ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺭﻓﺎﻋﺔ ﺍﻟﺴﻼﻣﻲ . ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺃﺑﻮ ﺧﻠﻒ ﺍﻷﻋﻤﻰ ﻗﺎﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻳﻘﻮﻝ ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ : ﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﺃﻣﺘﻲ ﻻ ﺗﺠﺘﻤﻊ ﻋﻠﻰ 

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah kelompok mayoritas (as-sawad al a’zham).”
(HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)
al-Imam as-Suyuthi rahimahullaah menafsirkan kata As-sawadul A’zhom sebagai sekelompok (jamaah) manusia yang terbanyak, yang bersatu dalam satu titian manhaj yang lurus. (Lihat:
Syarah Sunan Ibnu Majah: 1/283).
Menurut al-Hafidz al-Muhaddits Imam Suyuthi, As-Sawad Al-A’zhom merupakan mayoritas umat Islam.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqolani menukil perkataan Imam Ath-Thabari mengenai makna kata “jamaah” dalam hadits Bukhari yang berbunyi, “Hendaknya kalian bersama jamaah”, beliau berkata, “Jamaah adalah As-Sawad Al-A’zhom.” (Lihat Fathul Bari juz 13 hal. 37)
Ibnu Hajar al-Atsqolani pun memaknai “Jama’ah” sebagai As-Sawad Al-A’zhom (mayoritas umat Islam).

Hadits di atas juga senada dengan hadits yang masyhur dan shohih berikut ini

ﺍﺧﺘﻠﻔﺖ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻋﻠﻰ ﺇﺣﺪﻯ ﻭﺳﺒﻌﻴﻦ ﻓﺮﻗﺔ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﻭﺍﺣﺪﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﺧﺘﻠﻔﺖ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻋﻠﻰ ﺍﺛﻨﺘﻴﻦ ﻭﺳﺒﻌﻴﻦ ﻓﺮﻗﺔ ﺇﺣﺪﻯ ﻭﺳﺒﻌﻮﻥ ﻓﺮﻗﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﻭﺍﺣﺪﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺗﺨﺘﻠﻒ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺙ ﻭﺳﺒﻌﻴﻦ ﻓﺮﻗﺔ ﺍﺛﻨﺘﺎﻥ ﻭﺳﺒﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻭﻭﺍﺣﺪﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻘﻠﻨﺎ : ﺍﻧﻌﺘﻬﻢ ﻟﻨﺎ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ

“Umat Yahudi terpecah menjadi 71 firqoh, 70 firqoh di neraka dan 1 firqoh di surga. Umat Nashoro terpecah menjadi 72 firqoh , 71 firqoh di neraka dan 1 firqoh di surga. Umat ini akan terpecah menjadi 73 firqoh, 72 firqoh di neraka dan 1 firqoh di surga.”
Kami (para sahabat) bertanya, “Tunjukkan sifatnya untuk kami.” Beliau menjawab, “As-Sawad Al-A’zhom.”
Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir juz 8 hal. 273 nomor 8.051.
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi secara ringkas. Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan rijalnya tsiqoh.” (Majma’ Az-Zawaid juz 6 hal. 350 nomor 10.436)

Begitu juga senada dengan hadits shohih berikut ini

ﻻ ﻳﺠﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻣﺮ ﺃﻣﺘﻰ ﻋﻠﻰ ﺿﻼﻟﺔ ﺃﺑﺪﺍ ﺍﺗﺒﻌﻮﺍ ﺍﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ ﻳﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺷﺬ ﺷﺬ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭ

“Allah tidak akan membiarkan ummatku dalam kesesatan selamanya. Ikutilah As-Sawad Al-A’zhom. Tangan (rahmah dan perlindungan) Allah bersama jamaah. Barangsiapa menyendiri/menyempal, ia akan menyendiri/menyempal di dalam neraka.”
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas juz 1 hal. 202 nomor 398 dan dari Ibnu Umar juz 1 hal. 199 nomor 391 (Jami’ul Ahadits: 17.515)
Selanjutnya perhatikan juga hadits shohih berikut ini:

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺃﻣﺎﻣﺔ ﺍﻟﺒﺎﻫﻠﻲ : ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ
ﺭﻭﺍﻩ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺒﺰﺍﺭ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻭﺭﺟﺎﻟﻬﻤﺎ ﺛﻘﺎﺕ

Abu Umamah Al-Bahili berkata, “Hendaknya kalian bersama As-Sawad Al-A’zhom. (golongan mayoritas umat Islam)”. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dan Al-Bazzar dan Ath-Thabrani, rijal mereka berdua tsiqoh. (Lihat Majma’uz Zawaid nomor 9.097)

Demikianlah nasehat Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam kepada kita, agar kita mengikuti mayoritas umat Islam dan jangan menyendiri/menyempal, karena ancamannya neraka. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah menjamin bahwa mayoritas umat Islam tidak mungkin berada dalam kesesatan, sebagai umat Islam sudah pasti kita wajib iman/percaya dan tidak ada keragu-raguan setitikpun pada beliau.

Semoga kita semua tergolong dalam kelompok As-Sawad Al-A’zhom (mayoritas umat Islam) yaitu kaum ahlussunnah wal jama’ah yang selalu berpedoman kepada Al-Qur’an, al-Hadits, al-Ijma’ wa al-Qiyas, yang kemudian pengamalan syari’atnya/fiqhnya berdasarkan salah satu dari 4 madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), aqidahnya berdasarkan faham Asy’ariyah-Maturidiyah, dan ihsannya mengikuti Syekh Imam Abu Qosim Al-Junaidi Al-Baghdadi

mengikuti tauhid yang diikuti oleh mayoritas umat Islam Asy’ariyah dan Maturidiyah. Kelompok mayoritas lah yang lebih layak menyandang nama Ahlussunnah Wal-Jamaah. 
Dalam sekian banyak hadits, umat Islam diwajibkan mengikuti golongan al-jama’ah. Kata al-jama'ah dalam hadits-hadits tersebut mengacu pada arti al-sawad al-a'zham (mayoritas umat Islam), dengan artian bahwa Ahlussunnah Wal-Jama'ah adalah aliran yang diikuti oleh mayoritas umat Islam. Pengertian ini, sesuai dengan dua hal.
Pertama; makna jama’ah secara kebahasaan, yaitu sekumpulan apa saja dan jumlahnya banyak (‘adadu kulli syay’in wa katsratuhu). (Lihat: Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, juz 8, hal. 53; dan al-Zabidi, Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus, juz 1, hal. 5167.).

ﺿﻼﻟﺔ . ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻢ ﺍﺧﺘﻼﻓﺎ ﻓﻌﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷﻋﻈﻢ

Kedua; hadits-hadits shahih mewajibkan umat Islam mengikuti golongan mayoritas. Hadits-hadits tersebut antara lain:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه يَقُولُ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِنَّ أُمَّتِيْ لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ اِخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ. (حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ بِطُرُقِهِ).

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas."
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Majah (3950), Abd bin Humaid dalam al-Musnad (1220), al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (2069), al-Lalaka'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahl al-Sunnah (153) dan Abu Nu'aim dalam Hilyat al-Auliya' (9/238). Al-Hafizh al-Suyuthi menilai hadits ini shahih dalam al-Jami' al-Shaghir (1/88). Demikian pula Syaikh Syu'aib al-Arna'uth juga menilai hadits tersebut kuat dan dapat dijadikan hujjah berdasarkan syawahid-nya dalam tahqiq Siyar A'lam al-Nubala' (12/196-197).

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ يَجْمَعُ اللهُ أُمَّتِيْ عَلىَ ضَلاَلَةٍ أَبَدًا، وَيَدُ اللهِ عَلىَ الْجَمَاعَةِ هَكَذَا، فَاتَّبِعُوا السَّوَادَ اْلأَعْظَمَ، فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ. (حَدِيْثٌ حَسَنٌ).

“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan selamanya. Pertolo-ngan Allah selalu atas golongan terbanyak. Ikutilah golongan terbesar, karena orang yang mengucilkan diri (dari golongan terbanyak), berarti mengucilkan dirinya ke neraka.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Mustadrak (1/115); Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliya’ (3/37); dan al-Thabarani, al-Mu’jam al-Kabir, (12/447). Hadits ini bernilai hasan. Lihat, al-Hafizh al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid (5/218).

رَأَى أَبُوْ غَالِبٍ أَبَا أُمَامَةَ يَقُوْلُ فِي الْخَوَارِجِ كِلاَبُ جَهَنَّمَ شَرُّ قَتْلىَ تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ قَالَ قُلْتُ هُمْ هَؤُلاَءِ يَا اَبَا اُمَامَةَ، قَالَ نَعَمْ، قُلْتُ مِنْ قِبَلِكَ تَقُوْلُ أَوْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ اِنِّىْ إِذًا لَجَرِيْءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ لاَمَرَّةً وَلاَ مَرَّتَيْنِ حَتَّى عَدَّ سَبْعًا ثُمَّ قَالَ اِنَّ بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقُوْا عَلىَ اِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاِنَّ هَذِهَ اْلاُمَّةَ تَزِيْدُ عَلَيْهِمْ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ اِلاَّ السَّوَادَ اْلاَعْظَمَ.

“Abu Ghalib melihat sahabat Abu Umamah berkata tentang orang-orang Khawarij yang terbunuh: “Mereka itu anjing-anjing neraka Jahanam, seburuk-buruk mayat di bawah langit”. Abu Ghalib berkata: “Apakah mereka orang-orang Khawarij itu maksud Anda wahai Abu Umamah?” Ia menjawab: “Ya”. Aku berkata: “Ini pendapat Anda pribadi atau Anda mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab: “Kalau ini pendapatku, berarti aku benar-benar berani. Tetapi ini aku mendengarnya dari Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sekali, dua kali, bahkan sampai tujuh kali”. Kemudian Abu Umamah berkata: “Sesungguhnya Bani Israil bercerai-berai menjadi tujuh puluh satu aliran. Dan sesungguhnya umat ini akan melebihi satu aliran dari mereka, semuanya akan masuk ke neraka kecuali golongan mayoritas”. (HR. al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra (8/188).

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:ثَلاَثٌ لاَ يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ: إِخْلاَصُ الْعَمَلِ، وَالنَّصِيْحَةُ لِوَلِيِّ اْلأَمْرِ، وَلُزُوْمُ الْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تَكُوْنُ مِنْ وَرَائِهِمْ.

“Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tiga perkara yang dapat membersihkan hati seorang mukmin dari sifat dendam dan kejelekan, yaitu tulus dalam beramal, berbuat baik kepada penguasa, dan selalu mengikuti kebanyakan kaum Muslimin, karena doa mereka akan selalu mengikutinya." (HR. al-Tirmidzi (2582), Ahmad (12871) dan al-Hakim (1/88) yang menilainya shahih sesuai persyaratan al-Bukhari dan Muslim.)
Hadits-hadits di atas menyampaikan pesan yang sangat penting, bahwa ketika perpecahan dan perselisihan antar umat Islam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya agar mengikuti al-sawad al-a’zham (golongan mayoritas), karena al-sawad al-a’zham ini yang akan menjadi satu-satunya al-firqah al-najiyah (golongan yang selamat). Sedangkan kelompok-kelompok minoritas akan menjadi al-firaq al-halikah (golongan-golongan yang celaka). Dalam konteks ini, al-Imam Abdul Ghani al-Mujaddidi al-Dahlawi al-Hanafi (1235-1296 H/1820-1879 M), seorang ulama fiqih dan pakar hadits berkebangsaan India, ketika mengomentari hadits al-sawad al-a’zham tersebut berkata:

قَوْلُهُ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ أَيْ جُمْلَةِ النَّاسِ وَمُعْظَمِهِمْ الَّذِيْنَ يَجْتَمِعُوْنَ عَلىَ طَاعَةِ السُّلْطَانِ وَسُلُوْكِ النَّهْجِ الْمُسْتَقِيْمِ كَذَا فِي الْمَجْمَعِ فَهَذَا الْحَدِيْثُ مِعْيَارٌ عَظِيْمٌ لأَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ شَكَرَ اللهُ سَعْيَهُمْ فَاِنَّهُمْ هُمُ السَّوَادُ اْلأَعْظَمُ وَذَلِكَ لاَ يَحْتَاجُ اِلىَ بُرْهَانٍ، فَإِنَّكَ لَوْ نَظَرْتَ اِلىَ أَهْلِ اْلأَهْوَاءِ بِأَجْمَعِهِمْ مَعَ اَنَّهُمْ اِثْنَانِ وَسَبْعُوْنَ فِرْقَةً لاَ يَبْلُغُ عَدَدُهُمْ عُشُرَ أَهْلِ السُّنَّةِ.

“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ikutilah al-sawad al-a’zham”, maksudnya kebanyakan dan mayoritas manusia yang menjaga kebersamaan dengan mentaati penguasa dan mengikuti jalan yang lurus. Demikian keterangan dalam kitab al-Majma’. Hadits ini merupakan barometer yang agung bagi Ahlussunnah Wal-Jama’ah, semoga Allah membalas usaha mereka. Karena merekalah golongan mayoritas. Hal tersebut tidak butuh pada pembuktian. Karena apabila kamu melihat ahlul ahwa’ seluruhnya, meskipun mereka tujuh puluh dua aliran, jumlah mereka tidak sampai sepuluh persen dari golongan Ahlussunnah”. (Abdul Ghani al-Mujaddidi al-Dahlawi, Injah al-Hajah Syarh Sunan Ibn Majah, juz 2, hal. 1437.)

Paparan di atas memberikan kesimpulan bahwa golongan yang selamat adalah golongan mayoritas. Pengertian ini sesuai dengan madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, karena dalam realita yang ada, madzhab tersebut diikuti oleh mayoritas kaum Muslimin di dunia, dari dulu hingga kini. Di samping itu, hadits tersebut juga menunjukkan terhadap arti keharusan mengikuti madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, karena mengikutinya berarti mengikuti mayoritas kaum Muslimin. Dan keluar dari madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, berarti keluar dari mayoritas kaum Muslimin.

Di sisi lain, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa maksud al-sawad al-a'zham dalam hadits tersebut adalah mayoritas ulama yang memiliki ilmu yang mendalam dan pendapatnya dapat diikuti (mu'tabar). Pendapat ini diriwayatkan dari beberapa ulama salaf seperti Abdullah bin al-Mubarak, Ishaq bin Rahawaih dan lain-lain. Pendapat ini tidak jauh berbeda dengan pendapat pertama, dan sesuai dengan madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi, karena berdasarkan kesepakatan para pakar, madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi diikuti oleh mayoritas ulama dari kalangan ahli fiqih, ahli hadits, ahli tafsir, ahli tashawuf dan lain-lain. Realita bahwa mayoritas ulama terkemuka mengikuti madzhab al-Asy'ari juga diakui oleh Syaikh Abdurrahman bin Shalih al-Mahmud –ulama Salafi-Wahabi kontemporer-, yang mengatakan:

“Di antara sebab tersebarnya madzhab al-Asy'ari ialah, bahwa mayoritas ulama berpegangan dengan madzhab tersebut dan menjadi pembelanya, lebih-lebih para fuqaha madzhab Syafi'i dan Maliki... Tokoh-tokoh yang mengadopsi madzhab al-Asy'ari antara lain adalah al-Baqillani, Ibn Furak, al-Baihaqi, al-Asfarayini, al-Syirazi, al-Juwaini, al-Qusyairi, al-Baghdadi, al-Ghazali, al-Razi, al-Amidi, al-'Izz bin Abdissalam, Badruddin bin Jama'ah, al-Subki dan masih banyak ulama-ulama yang lain. Mereka bukan sekedar pengikut madzhab al-Asy'ari saja, tetapi mereka juga penulis dan pengajak kepada madzhab ini. Oleh karena itu mereka menyusun banyak karangan dan menggembleng murid-murid yang begitu banyak.” (Abdurrahman bin Shalih al-Mahmud, Mauqif Ibn Taimiyah min al-Asya'irah, hlm. 502. Pernyataan senada juga dikemukakan oleh Safar al-Hawali –ulama radikal Salafi-Wahabi juga-, dalam bukunya Naqd Manhaj al-Asya'irah fi al-'Aqidah, hlm. 7.).



Senin, 22 Agustus 2016

Ciri Ciri Wahabi , Seperti apa Wahabi ,Apa sih Wahabi itu ?

Ciri Ciri Wahabi

AQIDAH
1. Membagi Tauhid menjadi 3 bagian yaitu:
(a). Tauhid Rububiyyah: Dengan tauhid ini, mereka mengatakan bahwa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tauhid.
(b). Tauhid Uluhiyyah: Dengan tauhid ini, mereka menafikan tauhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh jumhur ulama‟ Islam khasnya ulama‟ empat Imam madzhab.
(c.) Tauhid Asma’ dan Sifat: Tauhid versi mereka ini bisa menjerumuskan umat islam ke lembah tashbih dan tajsim kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala seperti:
Menterjemahkan istiwa’ sebagai bersemayam/
bersila
Merterjemahkan yad sebagai tangan
Menterjemahkan wajh sebagai muka
Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ulya)
Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
Menterjemah nuzul sebagai turun dengan dzat
Menterjemah saq sebagai betis
Menterjemah ashabi’ sebagai jari-jari, dll
Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa
Menambah bi dzatihi haqiqatan [dengan dzat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat
2. Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zhahir tanpa penjelasan terperinci dari ulama-ulama yang mu’tabar
3. Menolak asy-Sya’irah dan al-Maturidiyah yang merupakan ulama’ Islam dalam perkara Aqidah yang diikuti mayoritas umat islam
4. Sering mengkrititik asy-Sya’irah bahkan sehingga mengkafirkan asy-Sya’irah.
5. Menyamakan asy-Sya’irah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mu’aththilah dalam perkara mutashabihat.
6. Menolak dan menganggap tauhid sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkanfalsafah Yunani dan Greek.
7. Berselindung di sebalik mazhab Salaf.
8. Golongan mereka ini dikenal sebagai al-Hasyawiyyah, al-Musyabbihah, al-
Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah.
9. Sering menuduh bahwa Abu Hasan Al-Asy’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab asy-Sya’irah. Menuduh ulama’ asy-Sya’irah tidak betul-betul memahami faham Abu Hasan Al-Asy’ari.
10. Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat.
11. Sering menuduh bahwa mayoritas umat Islam telah jatuh kepada perbuatan syirik.
12. Menuduh bahwa amalan memuliakan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam [membaca maulid dll] membawa kepada perbuatan syirik.
13. Tidak mengambil pelajaran sejarah para anbiya’, ulama’ dan sholihin dengan
dalih menghindari syirik.
14. Pemahaman yang salah tentang makna syirik, sehingga mudah menghukumi orang sebagai pelaku syirik.
15. Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta sholihin.
16. Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai cabang-cabang syirik.
17. Memandang remeh karamah para wali [auliya’].
18. Menyatakan bahwa ibu bapa dan datuk Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak selamat dari adzab api neraka.
19. Mengharamkan mengucap “radhiallahu ‘anha” untuk ibu Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, Sayyidatuna Aminah.

SIKAP
 
1. Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan
mereka.
2. Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak).
3. Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan hadits (walaupun tidak layak).
4. Sering memtertawakan dan meremehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.
5. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.
6. Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu syaz (janggal).





HADITS
1. Menolak beramal dengan hadis dho’if.
2. Penilaian hadits yang tidak sama dengan penilaian ulama’ hadits yang lain.
3. Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak
mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadits.
[Bahkan mayoritas muslim mengetahui bahwa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadits dan diketahui bahawa beliau belajar hadits secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].
4. Sering menganggap hadits dho’if sebagai hadits mawdhu’ [mereka mengumpulkan hadits dho’if dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadits tersebut adalah sama]
5. Pembahasan hanya kepada sanad dan matan hadits, dan bukan pada makna hadits. Oleh karena itu, pebedaan pemahaman ulama’ [syawahid] dikesampingkan.

QUR’AN

1. Menganggap tajwid sebagai ilmu yang menyusahkan dan tidak perlu (Sebagian Wahabi indonesia yang jahil)

FIQH
1. Menolak mengikuti madzhab imam-imam yang empat; pada hakikatnya
mereka bermadzhab “TANPA MADZHAB”
2. Mencampuradukkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq [mengambil yang disukai] haram
3. Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; mereka mengklaim dirinya berittiba’
4. Sering mengungkit dan mempermasalahkan soal-soal khilafiyyah
5. Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6. Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah Bid’ah
7. Sering menuduh orang yang bermadzhab sebagai ta’assub [fanatik] mazhab
8. Salah faham makna bid‟ah yang menyebabkan mereka mudah membid‟ahkan orang lain
9. Mempromosikan madzhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas keluar daripada fiqh empat mazhab]
10. Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tu’assiru, farrihu wa la tunaffiru”
11. Sering mengatakan bahwa fiqh empat madzhab telah ketinggalan zaman

NAJIS
1. Sebagian mereka sering mempermasalahkan dalil akan kedudukan babi sebagai najis mughallazhah
2. Menyatakan bahwa bulu babi itu tidak najis karena tidak ada darah yang mengalir.

WUDHU’
1. Tidak menerima konsep air musta’mal
2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’
3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.

ADZAN
1. Adzan Juma’at sekali; adzan kedua ditolak

SHALAT
1. Mempromosikan “Sifat Shalat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam‟, dengan alasan kononnya shalat berdasarkan fiqh madzhab adalah bukan sifat shalat Nabi yang benar
2. Menganggap melafazhkan kalimat “usholli” sebagai bid’ah.
3. Berdiri dengan kedua kaki mengangkang.
4. Tidak membaca “Basmalah‟ secara jahar.
5. Menggangkat tangan sewaktu takbir sejajar bahu atau di depan dada.
6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam.
7. Menganggap perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam shalat sebagai perkara bid‟ah (sebagian Wahabiyyah Indonesia yang jahil).
8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah.
9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah.
10. Menganggap mengusap muka selepas shalat sebagai bid’ah.
11. Shalat tarawih hanya 8 rakaat; mereka juga mengatakan shalat tarawih itu
sebenarnya adalah shalat malam (shalatul-lail) seperti pada malam-malam lainnya
12. Dzikir jahr di antara rakaat-rakaat shalat tarawih dianggap bid’ah.
13. Tidak ada qadha’ bagi shalat yang sengaja ditinggalkan.
14. Menganggap amalan bersalaman selepas shalat adalah bid’ah.
15. Menggangap lafazh sayyidina (taswid) dalam shalat sebagai bid’ah.
16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tasyahud awal dan akhir.
17. Boleh jama’ dan qashar walaupun kurang dari dua marhalah.
18. Memakai sarung atau celana setengah betis untuk menghindari isbal.
19. Menolak shalat sunnat qabliyyah sebelum Juma’at
20. Menjama’ shalat sepanjang semester pengajian, karena mereka berada di landasan Fisabilillah

DO’A, DZIKIR DAN BACAAN AL-QUR’AN
1. Menggangap do’a berjama’ah selepas shalat sebagai bid’ah.
2. Menganggap dzikir dan wirid berjama’ah sebagai bid’ah.
3. Mengatakan bahwa membaca “Sodaqallahul ‘azhim” selepas bacaan al-Qur’an adalah Bid’ah.
4. Menyatakan bahwa do’a, dzikir dan shalawat yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Hadits sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khairat, Shalawat al-Syifa‟, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll.
5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jum’at sebagai bid’ah yang haram.
6. Mengatakan bahwa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat.
7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah.
8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah.
9. Menolak amalan ruqiyyah syar’iyah dalam pengobatan Islam seperti wafa‟, azimat, dll.
10. Menolak dzikir isim mufrad: Allah Allah.
11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram.
12. Sering menafikan dan memperselisihkan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban.
13. Sering mengkritik keutamaan malam Nisfu Sya’ban.
14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah.
15. Mempermasalahkan kedudukan shalat sunat tasbih. 

PENGURUSAN JENAZAH DAN KUBUR 
1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan sholihin sebagai bid’ah dan shalat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini.
2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur.
3. Menganggap talqin sebagai bid’ah.
4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram.
5. Tidak membaca do’a selepas shalat jenazah.
6. Sebagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik
7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram
8. Do’a dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah.


MUNAKAHAT [PERNIKAHAN]

1. Talak tiga (3) dalam satu majlis adalah talak satu (1)


MAJLIS SAMBUTAN BERAMAI-RAMAI
1. Menolak peringatan Maulid Nabi; bahkan menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan kristen bagi Nabi Isa as.
2. Menolak amalan marhaban para habaib
3. Menolak amalan barzanji.
4. Berdiri ketika bacaan maulid adalah bid’ah
5. Menolak peringatan Isra’ Mi’raj, dll.

HAJI DAN UMRAH
1. Mencoba untuk memindahkan “Maqam Ibrahim as.” namun usaha tersebut telah digagalkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha’rawi saat beliau menemuhi Raja Faisal ketika itu.
2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam
3. Mengubah tempat sa’i di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia

PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN
1. Maraknya para professional yang bertitle LC menjadi “ustadz-ustadz‟ mereka (di Indonesia)
2. Ulama-ulama yang sering menjadi rujukan mereka adalah:
a. Ibnu Taymiyyah al-Harrani
b. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
c. Muhammad bin Abdul Wahhab
d. Sheihk Abdul Aziz bin Baz
e. Nasiruddin al-Albani
f. Sheikh Sholeh al-Utsaimin
g. Sheikh Sholeh al-Fawzan
h. Adz-Dzahabi dll.
3. Sering mendakwahkan untuk kembali kepada al-Qura’an dan Hadits (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Qura’n dan Hadits sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ juga lah yang memelihara dan menjabarkan kandungan al-Qur’an dan Hadits untuk umat ini)
4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumuddin”

PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM
1. Bersekutu dengan Inggris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Utsmaniyyah
2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab ulama’ yang tidak sehaluan dengan mereka
3. Banyak ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka di timur tengah
4. Memusnahkan sebagian besar peninggalan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meratakan maqam al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakar dll, dengan hujjah tempat tersebut bisa membawa kepada syirik.
5. Di Indonesia, sebagian mereka dalu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [karena hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].


TASWWUF DAN THARIQAT

1. Sering mengkritik aliran Sufisme dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar
2. Sufiyyah dianggap sebagai kesamaan dengan ajaran Budha dan Nasrani
3. Tidak dapat membedakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat.

Wallahu a’lam bish-Showab wal hadi ila sabilil haq.

Sejarah Penamaan Wahabi



Ustadz idrus Ramli

TENTANG NAMA WAHABI

Wahabi adalah nama aliran yang dinisbatkan kepada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi. Pada awalnya nama Wahabi menjadi nama kebanggaan bagi golongan mereka. Sehingga pada tahun 1343 Hijriah, ketika Wahabi berhasil menaklukkan Hijaz, mereka menerbitkan kitab karya salah seorang ulama Wahabi berjudul,
الهدية السنية والتحفة الوهابية النجدية
(Hadiah yang luhur dan anugerah kaum Wahabi dari Najd).

Setelah itu, dengan banyaknya generasi Wahabi yang radikal, para penguasa Wahabi mulai merasa tidak nyaman dengan nama Wahabi yang mereka banggakan. Karena setiap disebut nama Wahabi, kaum muslimin menjadi tidak suka kepada mereka. Untuk meredam antipati umat Islam terhadap mereka, para tokoh Wahabi mulai meninggalkan nama tersebut dan beralih kepada nama Salafi.

Dewasa ini, sebagian kaum Wahabi mengarahkan nama Wahabi kepada aliran Wahabi masa silam yang telah punah, yaitu pengikut Abdul Wahhab bin Rustum. Sepertinya kaum Wahabi sekarang tidak tahu sejarah alirannya sendiri yang pernah merasa bangga dengan nama Wahabi sampai menulis kitab berjudul,
الهدية السنية والتحفة الوهابية النجدية
Karya Sulaiman bin Sahman.

     Tulisan ini adalah bukti ilmiah bukanlah caci maki pada golongan tertentu. Semoga yang membacanya mendapatkan petunjuk dari Allah.
Banyak beredar kerancuan terkait penisbatan istilah Wahabi kepada Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka (Wahhabi) menyatakan bahwa Wahhabiyyah didirikan oleh oleh Abdul Wahhab bin Rustum, bukan Muhammad bin Abdul Wahhab.

Siapakah sebenarnya Abdul Wahhab bin Rustum? benarkah ia pendiri Wahhabiyyah?.
Dalam tulisan ini, hendak menegaskan kembali bahwa Abdul Wahhab bin Rustum bukan pendiri Wahhabiyyah tapi pengikut Wahbiyyah.

Dalam kitab Tarikh Ibnu Khaldun dijelaskan sebagai berikut :

وكان يزيد قد أذل الخوارج ومهد البلاد فكانت ساكنة أيام روح ، ورغب في موادعة عبد الوهاب بن رستم وكان من الوهبية فوادعه

Dari petikan kalimat diatas, jelas sekali bahwa Abdul Wahhab bin Rustum bukan pendiri Wahhabiyyah bahkan bukan pula pendiri Wahbiyyah, melainkan termasuk pengikut Wahbiyyah
(wa kana minal wahbiyyah).

Lantas siapakah pendiri Wahbiyyah yang diikuti oleh Abdul Wahhab bin Rustum?.
Pendiri Wahbiyyah bernama Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi. Sedangkan pendiri Wahhabiyyah atau Wahhabi adalah Muhammad bin Abdul Wahhab. Pembaca sejarah yang jeli akan mengetahui perbedaan kedua istilah tersebut.
Sebetulnya ajaran yang disebarkan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum itu bukan Wahhabiyyah ( الوهابيه ) tapi Wahbiyyah ( الوهبية ), lalu kenapa juga ajaran nya disebut Wahbiyyah ? apakah Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum ? Ternyata juga bukan karena ajaran Wahbiyyah tersebut adalah nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi (38 H).

Didalam buku seorang sejarawan asal Prancis, yaitu Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil [1364 H/1945 M], terdapat bukti sejarah yang mengatakan:

 وقد سموا أيضا الوهبيين نسبة إلى عبد الله بن وهب الراسبي ، زعيم الخوارج

“Dan sungguh mereka dinamakan Wahbiyyin (الوهبيين) karena dinisbahkan kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi, yang di tuduh sebagai Khawarij” [Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya– halaman 145].
Ternyata dalam buku Al-Faradbil juga tertulis Wahbiyyin, bukan Wahhabiyyin, dan dengan sharih disebutkan nisbah nya, Wahbiyyah atau Wahbiyyin bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum sebagaimana dalam dongeng di atas, akan tetapi Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi. Ajaran itu lalu pecah kepada beberapa firqah, nah firqah nya Abdul wahhab bin Abdirrahman bin Rustum di sebut Wahbiyyah Rustumiyyah (bukan Wahhabiyyah Rustumiyyah)

Kebanggaan Ulama Wahabi Dengan Nama Wahabi

Berikut adalah bukti pengakuan dari Syaikh Wahabi yakni Ibnu Baz dalam kitab Fatawa Nur ‘ala al-darb pada soal yang ke 6 sebagai berikut :

س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟
" Soal ke 6 : Seseorang bertanya kepada Syaikh : Sebagian manusia menamakan Ulama-Ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi [Wahabiyyah], adakah antum ridho dengan nama tersebut ? dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan antum dengan nama tersebut ?” Syaikh Ibnu Baz menjawab sebagai berikut :

الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه
"Jawab : Penamaan tersebut masyhur untuk Ulama Tauhid yakni Ulama Nejed [Najd], mereka menisbahkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab. dan bahkan Ibnu Baz memuji nama tersebut, ia berkata :
فهو لقب شريف عظيم
“Nama itu (Wahhabiyah) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung.

Bahkan Syaikh Sulaiman bin Samkhan ulama Wahabi yang pertama kali mencetuskan istilah quburiyyun dalam kitabnya Kasyful Awham Wal Iltibas menulis kitab yang berjudul Al Hadiyyatus Saniyyah Wat Tukhfatul Wahabiyah Annajdiyah. Dengan jelasnya beliau membanggakan istilah nama Wahabi.
Oleh karena itu dengan niatan meluruskan bahwa nama wahabi adalah istilah yang diciptakan golongan syiah kepada mereka yang anti syiah sangatlah tidak tepat justru istilah wahabi adalah lahir dari ulama mereka sendiri dan diakuinya dengan penuh kebanggan.

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua supaya bisa tetap istiqomah dijalan yang diridhoinya.
Amin Ya Robbal 'Alamin.

ada sedikit percakapan mengenai nisbat penamaan muhammad bin abdul wahab

Dialog Netizen
Wahabi : g tepat kalian sufiyun menempatkan nama wahabi Pada pengikut syekh Muhammad Bin Abdul Wahab.. Namanya itu Muhammad seharusnya Muhammadi bukan Wahabi.
Ahlusunnah : Oh gitu ya.... Kalau gitu seharusnya kalian dan semua kaum muslimin zaman dahulu dan sekarang g boleh menyebut nama Madzhab Hanbali pada pengikut Imam Ahmad bin Hambal, wong namanya Ahmad kok harusnya Ahmadi donk..
Begini ya akhi pada saat ajaran wahabi meluas Syekh Muhammad bin Abdul Wahab itu lebih dikenal dengan Nama ibn Abdul Wahab daripada Muhammad.. Atau paling tidak selalu disebut dengan Muhammad Bin Abdul Wahab bukan disebut Muhammad saja atau Muhammad Annejdi atau Muhammad Attamimi tapi selalu menggandengkan denga nama ayahnya yaitu Syekh Abdul Wahab.. Selain itu tujuan penggelaran (laqob) Nama untuk memudahkan identifikasi, kalau menggunakan nama Muhamadi tentunya akan bermakna ajaran Sayyidina Muhammad SAW makanya kaum muslimin yang memberikan Laqob tidak menggunakan laqob ajaran Syekh Muhammad bin Abdul wahab dengan Muhammadi melainkan denhan Wahabi agar dapat difahami maknanya dan tidak rancu... Dari zaman salaf dahulu Ulama yg Namanya Muhammad tidak pernah ajaranya disebut Muhammadi.. Seperti Muhammad Bin Idris Asyafii, Muhammad Al Ghazali.. Dst.
Wahhabi : saya off dulu ya
Ahlusunnah : smile emotikon smile emotikon

Tata Cara Shalat Yang Benar Sesuai Sunah Nabi

Moh. Ma'ruf Khozin[1]




Membaca Niat

 ﻋَﻦْ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍْﻷَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟﻨِّﻴَّﺎﺕِ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣَﺎ ﻧَﻮَﻯ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ )


Rasulullah Saw bersabda: "(Keabsahan) amal adalah dengan niat. Seseorang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan" (HR al-Bukhari No 1)
mengucapkan niat dalam salat bukanlah bid'ah, sebab Rasulullah dalam sebagian ibadahnya juga melafadzkan niat, diantaranya:

 ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺲٌ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻟَﺒَّﻴْﻚَ ﺑِﻌُﻤْﺮَﺓٍ ﻭَﺣَﺞٍّ 

( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ 2195 )

Anas berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda (dalam niat haji dan umrah): "Saya penuhi panggilan-Mu dengan Umrah dan Haji" (HR Muslim No 2195)

 ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﺃُﻡِّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻲَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺫَﺍﺕَ ﻳَﻮْﻡٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻫَﻞْ ﻋِﻨْﺪَﻛُﻢْ ﺷَﻲْﺀٌ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ ﻻَ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﺇِﺫَﻥْ ﺻَﺎﺋِﻢٌ       ( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ 1951 )


 Aisyah berkata: Rasulullah Saw datang kepada saya lalu bertanya: "Apa ada makanan? Kami menjawab "Tidak ada". Rasulullah berkata: Kalau begitu saya berpuasa" (HR Muslim No 1951)

 Membaca Takbir

 ﻋﻦ ﺃَﺑﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﻘُﻮﻡُ ﺛُﻢَّ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﺮْﻛَﻊُ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﻤِﺪَﻩُ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺻُﻠْﺒَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮﻉِ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻭَﻫُﻮَ ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﺛُﻢَّ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﻬْﻮِﻱ ﺳَﺎﺟِﺪًﺍ ﺛُﻢَّ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﺛُﻢَّ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﺴْﺠُﺪُ ﺛُﻢَّ ﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﺛُﻢَّ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻛُﻠِّﻬَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘْﻀِﻴَﻬَﺎ ﻭَﻳُﻜَﺒِّﺮُ ﺣِﻴﻦَ ﻳَﻘُﻮﻡُ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤَﺜْﻨَﻰ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﺠُﻠُﻮﺱِ ﺛُﻢَّ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺃَﺑُﻮ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺇِﻧِّﻲ َ ﻷَﺷْﺒَﻬُﻜُﻢْ ﺻَﻼَﺓً ﺑِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ( ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ 747 ﻭﻣﺴﻠﻢ 591 )


Abu Hurairah berkata: Jika Rasulullah mau melaksanakan salat beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika rukuk, kemudian membaca 'Sami'allahu liman hamidahu' ketika bangun dari rukuk, kemudian dalam posisi berdiri beliau membaca 'Rabbana wa laka al-hamdu', kemudian bertakbir ketika turun ke posisi sujud, kemudian bertakbir ketika bangun dari sujud, kemudian bertakbir ketika hendak sujud (kedua), kemudian bertakbir ketika bangun dari sujud, dan beliau lakukan seperti itu di semua salat hingga selesai. Dan Rasulullah bertakbir ketika berdiri dari dua rakaat setelah duduk. Abu Hurairah berkata: "Sungguh saya yang paling sesuai diantara kalian dengan salat Rasulullah Saw" (HR Bukhari dan Muslim)

 Mengangkat Kedua Tangan

 ﻋَﻦْ ﻋَﻠِﻲِّ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﻃَﺎﻟِﺐٍ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺒَّﺮَ ﻟِﻠﺼَّﻼَﺓِ ﺣَﺬْﻭَ ﻣَﻨْﻜِﺒَﻴْﻪِ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﺮْﻛَﻊَ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮْﻉِ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻡَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻓَﻌَﻞَ ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ( ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻟﻠﺒﺨﺎﺭﻱ )


"Dari Ali bin Abi Thalib: Sesungguhnya Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya ketika takbir salat ke arah dua pundaknya, juga ketika hendak rukuk, bangun dari rukuk dan ketika bangun dari rakaat kedua" (HR Bukhari dalam kitab Raf'u al-Yadain)

 Tangan Bersedekap

 ﻋَﻦْ ﻗَﺒِﻴﺼَﺔَ ﺑْﻦِ ﻫُﻠْﺐٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺆُﻣُّﻨَﺎ ﻓَﻴَﺄْﺧُﺬُ ﺷِﻤَﺎﻟَﻪُ ﺑِﻴَﻤِﻴﻨِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﻋِﻴﺴَﻰ ﺣَﺪِﻳﺚُ ﻫُﻠْﺐٍ ﺣَﺪِﻳﺚٌ ﺣَﺴَﻦٌ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻯ 234 ) ﻭَﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﺬَﺍ ﻋِﻨْﺪَ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴﻦَ ﻭَﻣَﻦْ ﺑَﻌْﺪَﻫُﻢْ ﻳَﺮَﻭْﻥَ ﺃَﻥْ ﻳَﻀَﻊَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳَﻤِﻴﻨَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺷِﻤَﺎﻟِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﺭَﺃَﻯ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﻀَﻌَﻬُﻤَﺎ ﻓَﻮْﻕَ ﺍﻟﺴُّﺮَّﺓِ ﻭَﺭَﺃَﻯ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﻀَﻌَﻬُﻤَﺎ ﺗَﺤْﺖَ ﺍﻟﺴُّﺮَّﺓِ ﻭَﻛُﻞُّ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﺍﺳِﻊٌ ﻋِﻨْﺪَﻫُﻢْ


"Rasulullah Saw menjadi imam kami kemudian beliau memegang tangan kiri dengan tangan kanan beliau" (HR Turmudzi No 234). Turmudzi berkata: "Para ulama mengamalkan seperti ini, baik para sahabat Nabi, Tabiin dan generasi setelahnya, mereka meletakkan tangan kanannya diatas tangan kiri dalam salat. Mereka melatakkan tangannya diatas pusar, dan sebagian ulama yang lain meletakkan di bawah pusar. Menurut mereka ini ditolerir"

 ﺑَﺎﺏ ﻭَﺿْﻊِ ﻳَﺪِﻩِ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﺑَﻌْﺪَ ﺗَﻜْﺒِﻴﺮَﺓِ ﺍﻟْﺈِﺣْﺮَﺍﻡِ ﺗَﺤْﺖَ ﺻَﺪْﺭِﻩِ ﻓَﻮْﻕَ ﺳُﺮَّﺗِﻪِ ﻭَﻭَﺿْﻌُﻬُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺣَﺬْﻭَ ﻣَﻨْﻜِﺒَﻴْﻪِ ( ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ /2 365 )


(Bab dalam Sahih Muslim: "Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram, dibawah dada dan di atas pusar") Dua riwayat tentang meletakkan tangan di dada saat salat adalah dlaif


 1- ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﺗﻮﺑﺔ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﻬﻴﺜﻢ ﻋﻦ ﺛﻮﺭ ﻋﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻣﻮﺳﻰ ( ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻋﻨﺪﻩ ﻣﻨﺎﻛﻴﺮ ) ﻋﻦ ﻃﺎﻭﻭﺱ ﻗﺎﻝ ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻳﻀﻊ ﻳﺪﻩ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ ﻋﻠﻰ ﻳﺪﻩ ﺍﻟﻴﺴﺮﻯ ﺛﻢ ﻳﺸﺪ ﺑﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺻﺪﺭﻩ ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻫـ ﺍﻟﻤﺮﺍﺳﻴﻞ ﻷﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ( /1 26 ) 2- ﻭَﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﺑْﻦ ﺧُﺰَﻳْﻤَﺔ ﺃَﻳْﻀﺎ ﻓِﻲ « ﺻَﺤِﻴﺤﻪ » ﻋَﻦ ﻭَﺍﺋِﻞ ﻗَﺎﻝَ : « ﺻﻠﻴﺖ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳﻠﻢ - ﻓَﻮﺿﻊ ﻳَﺪﻩ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﻋَﻠَﻰ ( ﻳَﺪﻩ ) ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺻَﺪﺭﻩ » . ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ : ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺿﻌﻴﻒ ﻷﻥ ﻣﺆﻣﻼ ﻭﻫﻮ ﺍﺑﻦ ﺍﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺳﻴﺊ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﻟﻜﻦ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺟﺎﺀ ﻣﻦ ﻃﺮﻕ ﺃﺧﺮﻯ ﺑﻤﻌﻨﺎﻩ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻮﺿﻊ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺗﺸﻬﺪ ﻟﻪ ( ﺻﺤﻴﺢ ﺍﺑﻦ ﺧﺰﻳﻤﺔ /1 243 )


 Permulaan Iftitah

 ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻴْﻨَﻤَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺼَﻠِّﻲ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴﺮًﺍ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴﻠًﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣَﻦْ ﺍﻟْﻘَﺎﺋِﻞُ ﻛَﻠِﻤَﺔَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺃَﻧَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻋَﺠِﺒْﺖُ ﻟَﻬَﺎ ﻓُﺘِﺤَﺖْ ﻟَﻬَﺎ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ . ﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻬُﻦَّ ﻣُﻨْﺬُ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺫَﻟِﻚَ                  ( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ 943 )


Doa Iftitah

 ﻋَﻦْ ﻋَﻠِﻲِّ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﻃَﺎﻟِﺐٍ ﻋَﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻡَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺟَّﻬْﺖُ ﻭَﺟْﻬِﻲَ ﻟِﻠَّﺬِﻱ ﻓَﻄَﺮَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﺣَﻨِﻴﻔًﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺇِﻥَّ ﺻَﻠَﺎﺗِﻲ ﻭَﻧُﺴُﻜِﻲ ﻭَﻣَﺤْﻴَﺎﻱَ ﻭَﻣَﻤَﺎﺗِﻲ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ ﻟَﺎ ﺷَﺮِﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺃُﻣِﺮْﺕُ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ 1290 )


Membaca Basmalah Dengan Keras

 ( ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲُّ ) ﻭَﺑَﻠَﻐَﻨِﻲ ﺃَﻥَّ ﺍﺑﻦ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ ﻳَﻔْﺘَﺘِﺢُ ﺍﻟْﻘِﺮَﺍﺀَﺓَ ﺑﺒﺴﻢ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ ( ﺍﻷﻡ /1 107)


Imam Syafii meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw mengawali bacaan dengan Bismillah (al-Umm)

 ﻭَﻋَﻦ ﺃﺑﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢ َ ﺇِﺫﺍ ﻗَﺮَﺃْﺗُﻢْ ﺍﻟْﺤَﻤﺪ ﻓﺄﻗﺮﺅﺍ ﺑِﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢ ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﺃﻡ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥ ﻭَﺃﻡ ﺍﻟْﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﺒﻊ ﺍﻟﻤﺜﺎﻧﻲ ﻭﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢ ﺇِﺣْﺪَﻯ ﺁﻳﺎﺗﻬﺎ ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭ ﻗﻄﻨﻲ ﺑِﺈِﺳْﻨَﺎﺩ ﻛﻞ ﺭِﺟَﺎﻟﻪ ﺛِﻘَﺎﺕ ﻟَﺎ ﺟﺮﻡ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑْﻦ ﺍﻟﺴﻜﻦ ﻓِﻲ ﺳﻨَﻨﻪ ﺍﻟﺼِّﺤَﺎﺡ ( ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺃﺩﻟﺔ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﻻﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻘﻦ /1 292 )

Doa I'tidal

 ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﻤِﺪَﻩُ ﻓَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔِ ﻏُﻔِﺮَ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ ﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻣِﻦْ ﺫَﻧْﺒِﻪِ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ 754) ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺤَﻜَﻢِ ﻗَﺎﻝَ ﻏَﻠَﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻮﻓَﺔِ ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺪْ ﺳَﻤَّﺎﻩُ ﺯَﻣَﻦَ ﺍﺑْﻦِ ﺍﻟْﺄَﺷْﻌَﺚِ ﻓَﺄَﻣَﺮَ ﺃَﺑَﺎ ﻋُﺒَﻴْﺪَﺓَ ﺑْﻦَ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻥْ ﻳُﺼَﻠِّﻲَ ﺑِﺎﻟﻨَّﺎﺱِ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮُّﻛُﻮﻉِ ﻗَﺎﻡَ ﻗَﺪْﺭَ ﻣَﺎ ﺃَﻗُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻣِﻞْﺀُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻣِﻞْﺀُ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻣِﻞْﺀُ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﺑَﻌْﺪُ ( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ 725 )

Doa dalam Rukuk dan Sujud

 ﻋَﻦْ ﻋُﻘْﺒَﺔَ ﺑْﻦِ ﻋَﺎﻣِﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻤَّﺎ ﻧَﺰَﻟَﺖْ } ﻓَﺴَﺒِّﺢْ ﺑِﺎﺳْﻢِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ { ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﻫَﺎ ﻓِﻲ ﺭُﻛُﻮﻋِﻜُﻢْ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻧَﺰَﻟَﺘْﺔ } ﺳَﺒِّﺢْ ﺍﺳْﻢَ ﺭَﺑِّﻚَ ﺍﻟْﺄَﻋْﻠَﻰ { ﻗَﺎﻝَ ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﻫَﺎ ﻓِﻲ ﺳُﺠُﻮﺩِﻛُﻢْ . ﺯَﺍﺩَ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺇِﺫَﺍ ﺭَﻛَﻊَ ﻗَﺎﻝَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻲَ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺠَﺪَ ﻗَﺎﻝَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻲَ ﺍﻟْﺄَﻋْﻠَﻰ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ 736 ) ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺩَﺍﻭُﺩ ﻭَﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺰِّﻳَﺎﺩَﺓُ ﻧَﺨَﺎﻑُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﻣَﺤْﻔُﻮﻇَﺔً ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺩَﺍﻭُﺩ ﺍﻧْﻔَﺮَﺩَ ﺃَﻫْﻞُ ﻣِﺼْﺮَ ﺑِﺈِﺳْﻨَﺎﺩِ ﻫَﺬَﻳْﻦِ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺜَﻴْﻦِ ﺣَﺪِﻳﺚِ ﺍﻟﺮَّﺑِﻴﻊِ ﻭَﺣَﺪِﻳﺚِ ﺃَﺣْﻤَﺪَ ﺑْﻦِ ﻳُﻮﻧُﺲَ ﻭﺃﻣﺎ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻭﺑﺤﻤﺪﻩ ﻓﻬﻲ ﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻘﺒﺔ ﺍﻵﺗﻲ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﺪﺍﺭﻗﻄﻨﻲ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺍﻵﺗﻲ ﺃﻳﻀﺎ . ﻭﻋﻨﺪﻩ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺬﻳﻔﺔ . ﻭﻋﻨﺪ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺟﺤﻴﻔﺔ [ ﺹ 273 ] ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﺑﻌﺪ ﺇﺧﺮﺍﺟﻪ ﻟﻬﺎ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻘﺒﺔ ﺃﻧﻪ ﻳﺨﺎﻑ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺤﻔﻮﻇﺔ . ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺑﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﻭﻫﻮ ﺿﻌﻴﻒ . ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻟﻴﻠﻰ ﻭﻫﻮ ﺿﻌﻴﻒ . ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻣﺎﻟﻚ ﺷﻬﺮ ﺑﻦ ﺣﻮﺷﺐ ﻭﻗﺪ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺴﻌﺪﻱ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﺑﺪﻭﻧﻬﺎ . ﻭﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﺟﺤﻴﻔﺔ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ : ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺿﻌﻴﻒ ﻭﻗﺪ ﺃﻧﻜﺮ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻭﻟﻜﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻄﺮﻕ ﺗﺘﻌﺎﺿﺪ ﻓﻴﺮﺩ ﺑﻬﺎ ﻫﺬﺍ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ( ﻧﻴﻞ ﺍﻷﻭﻃﺎﺭ /2 271 )

Adapun tambahan 'wa bi hamdihi' terdapat dalam riwayat Abu Dawud dari Uqbah, juga dalam riwayat Daruquthni dari Ibnu Mas'ud dan Hudzaifah, dalam riwayat Ahmad dan Thabrani dari Abu Malik al Asy'ari, dalam riwayat al-Hakim dari Abu Juhaifah. Dalam riwayat-riwayat tersebut ada beberapa perawi dlaif, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ibnu Shalah mengingkari tambahan tersebut, tetapi banyaknya riwayat tersebut saling menguatkan. Dengan demikian pengingkaran tersebut dapat ditolak dengan anyaknya riwayat-riwayat di atas (Nailul Authar, al-Hafidz Asy-Syaukani, 2/271)

Doa Qunut

 ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﺯَﺍﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ r ﻳَﻘْﻨُﺖُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﺣَﺘَّﻰ ﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ . ( ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻗﻄﻨﻲ ).


“Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik t. Beliau berkata, “Rasulullah r senantiasa membaca qunut ketika shalat subuh sehingga beliau wafat.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, juz III, hal. 162 [12679], Sunan al-Daraquthni, juz II, hal. 39 [9]). Sanad hadits ini shahih sehingga dapat dijadikan pedoman. .
 Imam Nawawi di dalam kitab al-Majmu’ menegaskan

 ﺣَﺪِﻳْﺚٌ ﺻَﺤِﻴْﺢٌ ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤُﻔَّﺎﻅِ ﻭَﺻَﺤَّﺤُﻮْﻩُ ﻭَﻣِﻤَّﻦْ ﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻰ ﺻِﺤَّﺘِﻪِ ﺍْﻟﺤَﺎﻓِﻆُ ﺃَﺑُﻮْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻋَﻠِﻲٍ ﺍﻟْﺒَﻠْﺨِﻲ ، ﻭَﺍﻟْﺤَﺎﻛِﻢُ ﺃَﺑُﻮْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓِﻲ ﻣَﻮَﺍﺿِﻊَ ﻣِﻦْ ﻛُﺘُﺐِ ﺍﻟْﺒَﻴْﻬَﻘِﻲ ﻭَﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭَﻗُﻄْﻨِﻲ ﻣِﻦْ ﻃُﺮُﻕٍ ﺑِﺄَﺳَﺎﻧِﻴْﺪَ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٍ ( ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺝ 3 ﺹ 504 ).

 “Hadits tersebut adalah shahih. Diriwayatkan oleh banyak ahli hadits dan mereka kemudian menyatakan kesahihannya. Di antara orang yang menshahihkannya adalah al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Balkhi serta al-Hakim Abu Abdillah di dalam beberapa tempat di dalam kitab al-Baihaqi. Al-Daraquthni juga meriwayatkannya dari berbagai jalur sanad yang shahih.”
 (Al-Majmu’, juz III, hal. 504). .

 Doa Antara Dua Sujud

 ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﺠْﺪَﺗَﻴْﻦِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨِﻲ ﻭَﺍﺟْﺒُﺮْﻧِﻲ ﻭَﺍﻫْﺪِﻧِﻲ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨِﻲ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ 284 ) ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻗَﺎﻝَ ﺑِﺖُّ ﻋِﻨْﺪَ ﺧَﺎﻟَﺘِﻲ ﻣَﻴْﻤُﻮﻧَﺔَ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺎﻧْﺘَﺒَﻪَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﺭَﻛَﻊَ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺮَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺭُﻛُﻮﻋِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻲَ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ ﺛُﻢَّ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻓَﺤَﻤِﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻤَﺪَﻩُ ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﺳَﺠَﺪَ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﺳُﺠُﻮﺩِﻩِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻲَ ﺍﻟْﺄَﻋْﻠَﻰ ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﺠْﺪَﺗَﻴْﻦِ ﺭَﺏِّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨِﻲ ﻭَﺍﺟْﺒُﺮْﻧِﻲ ﻭَﺍﺭْﻓَﻌْﻨِﻲ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨِﻲ ﻭَﺍﻫْﺪِﻧِﻲ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ /5 460 ) ﺟﺎﻣﻊ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ( /36 281 ) 39305- ﻋﻦ ﻧﺎﻓﻊ : ﺃﻥ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﺇﺫﺍ ﺭﻓﻊ ﺭﺃﺳﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺠﺪﺓ ﻣﻌﺘﻤﺪﺍ ﻋﻠﻰ ﻳﺪﻳﻪ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻌﻬﻤﺎ ( ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺍﺯﻕ ) ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ( 2/178 ، ﺭﻗﻢ 2964 ) .

Bacaan Tasyahhud

 ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻗَﺎﻝَ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳُﻌَﻠِّﻤُﻨَﺎ ﺍﻟﺘَّﺸَﻬُّﺪَ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﻌَﻠِّﻤُﻨَﺎ ﺍﻟﺴُّﻮﺭَﺓَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺎﺕُ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺎﺕُ ﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻋِﺒَﺎﺩِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ 610 ) .

 Sayyidina Muhammad Dalam bacaan salawat Rasulullah memang tidak menyebutkan lafadz 'Sayidina'. Namun penambahan tersebut bukan berarti bid'ah terlarang. Sebab dalam beberapa hadis disebutkan kata 'Sayid' kepada Nabi, seperti Sahal bin Hunaif yang memanggil Rasulullah dengan 'Ya Sayidi', dan Rasulullah tidak menyalahkannya:

 ﻋَﻦْ ﺳَﻬْﻞِ ﺑْﻦِ ﺣُﻨَﻴْﻒٍ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ( ﻟِﺮَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ) : ﻳَﺎ ﺳَﻴِّﺪِﻱ ﻭَﺍﻟﺮُّﻗَﻰ ﺻَﺎﻟِﺤَﺔٌ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ 8270 ﻭﻗﺎﻝ ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻹﺳﻨﺎﺩ ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺮﺟﺎﻩ . ﺗﻌﻠﻴﻖ ﺍﻟﺬﻫﺒﻲ ﻗﻲ ﺍﻟﺘﻠﺨﻴﺺ : ﺻﺤﻴﺢ ) .

Sahabat Abdullah bin Mas'ud mengajarkan membaca doa dengan tambahan kata 'Sayid':

 ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻴْﺘُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻜُﻢْ ﻻَ ﺗَﺪْﺭُﻭﻥَ ﻟَﻌَﻞَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻳُﻌْﺮَﺽُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﻓَﻌَﻠِّﻤْﻨَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻮﻟُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﺻَﻼَﺗَﻚَ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺘَﻚَ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠِﻴﻦَ ﻭَﺇِﻣَﺎﻡِ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﻭَﺧَﺎﺗَﻢِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴِّﻴﻦَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ... ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ 896 ) ﻭﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻣﻦ ﻭﺟﻪ ﺍﺧﺮ ﻗﻮﻯ ﻟﻜﻨﻪ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ( ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ /11 158 ) .

 Oleh karenya banyak para ulama yang menganjurkan menyebut kata 'Sayidina' dalam salat:

 ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻭَﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍْﻷَﻭْﻟَﻰ ﺫِﻛْﺮُ ﺍﻟﺴِّﻴَﺎﺩَﺓِ ِ ﻷَﻥَّ ﺍْﻷَﻓْﻀَﻞَ ﺳُﻠُﻮْﻙُ ﺍْﻷَﺩَﺏِ ﻭَﺣَﺪِﻳْﺚُ ﻻَ ﺗُﺴَﻮِّﺩُﻭْﻧِﻲ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺗِﻜُﻢْ ﺑَﺎﻃِﻞٌ 

( ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ /1 169 ) .

 Hal yang utama adalah menyebut kata 'Sayid', sebab yang utama adalah menjaga etika. Sedangkan hadis yang artinya: "Jangan menyebut Sayid kepada saya di dalam salat" adalah hadis yang salah (I'anatut Thalibin 1/169) .

 Menambah Bacaan Dzikir dalam Salat

 ﻋَﻦْ ﺭِﻓَﺎﻋَﺔَ ﺑْﻦِ ﺭَﺍﻓِﻊٍ ﺍﻟﺰُّﺭَﻗِﻲِّ ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻨَّﺎ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻧُﺼَﻠِّﻲ ﻭَﺭَﺍﺀَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺔِ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﻤِﺪَﻩُ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻭَﺭَﺍﺀَﻩُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﺣَﻤْﺪًﺍ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻃَﻴِّﺒًﺎ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛًﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍﻧْﺼَﺮَﻑَ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺍﻟْﻤُﺘَﻜَﻠِّﻢُ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺑِﻀْﻌَﺔً ﻭَﺛَﻠَﺎﺛِﻴﻦَ ﻣَﻠَﻜًﺎ ﻳَﺒْﺘَﺪِﺭُﻭﻧَﻬَﺎ ﺃَﻳُّﻬُﻢْ ﻳَﻜْﺘُﺒُﻬَﺎ ﺃَﻭَّﻝُ 

( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ 757 )

 "Seorang sahabat di dalam salat menambah bacaan Rabbana wa laka al-hamdu… Selesai salat Nabi bertanya: "Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?" Orang itu menjawab: "Saya". Nabi bersabda: "Saya melihat ada 30 malaikat lebih yang bergegas mencatatnya" (HR Bukari) .

 Dari hadis ini Amirul Mu'minin fil hadis al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

 ﻭَﺍﺳْﺘُﺪِﻝَّ ﺑِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺟَﻮَﺍﺯِ ﺇِﺣْﺪَﺍﺙِ ﺫِﻛْﺮٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻏَﻴْﺮِ ﻣَﺄْﺛُﻮْﺭٍ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻏَﻴْﺮَ ﻣُﺨَﺎﻟِﻒٍ ﻟِﻠْﻤَﺄْﺛُﻮْﺭِ 

( ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﻻﺑﻦ ﺣﺠﺮ /2 287 )


 "Hadis ini dijadikan dalil diperbolehkannya memperbaharui dzikir di dalam salat yang tidak diajarkan oleh Rasulullah selama dzikir tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Rasulullah" (Fathul Bari 2/287) .

Bahkan hal ini dilakukan oleh sahabat yang lain:

 ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ ﺯِﺩْﺕُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ 826 )

 "Dalam kalimat Syahadat salat, Ibnu Umar berkata: Saya tambahkan bacaan Wahdahu la syarika lahu…" (Abu Dawud 826) .

Mengusap Wajah Setelah Salam

 ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﻭَﻓَﺮَﻍَ ﻣِﻦْ ﺻَﻼَﺗِﻪِ ﻣَﺴَﺢَ ﺑِﻴَﻤِﻴْﻨِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺃْﺳِﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢُ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃﺫْﻫِﺐْ ﻋَﻨِّﻲ ﺍﻟْﻬَﻢَّ ﻭَﺍﻟْﺤَﺰَﻥَ ، ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻣَﺴَﺢَ ﺟَﺒْﻬَﺘَﻪُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﻴُﻤْﻨَﻰ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃﺫْﻫِﺐْ ﻋَﻨِّﻲ ﺍﻟْﻐَﻢَّ ﻭَﺍﻟْﺤَﺰَﻥَ . ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻷﻭﺳﻂ ﻭﺍﻟﺒﺰﺍﺭ ﺑﻨﺤﻮﻩ ﺑﺄﺳﺎﻧﻴﺪ ﻭﻓﻴﻪ ﺯﻳﺪ ﺍﻟﻌﻤﻲ ﻭﻗﺪ ﻭﺛﻘﻪ ﻏﻴﺮ ﻭﺍﺣﺪ ﻭﺿﻌﻔﻪ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ، ﻭﺑﻘﻴﺔ ﺭﺟﺎﻝ ﺃﺣﺪ ﺇﺳﻨﺎﺩﻱ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﺛﻘﺎﺕ ﻭﻓﻲ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺧﻼﻑ )


 Selesai Salat Rasulullah mengusap kepala / keningnya dengan tangan kanan dan berdoa…. (HR Thabrani)

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﺟُﺤَﻴْﻔَﺔَ ﻗَﺎﻝَ ﺻَﻠَّﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ r ﺍﻟﻈُّﻬْﺮَ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺼْﺮَ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻋَﻨَﺰَﺓٌ . ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻤُﺮُّ ﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺋِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﻭَﻗَﺎﻡَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻓَﺠَﻌَﻠُﻮﺍ ﻳَﺄْﺧُﺬُﻭﻥَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻓَﻴَﻤْﺴَﺤُﻮﻥَ ﺑِﻬَﺎ ﻭُﺟُﻮﻫَﻬُﻢْ ، ﻓَﺄَﺧَﺬْﺕُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻓَﻮَﺿَﻌْﺘُﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺟْﻬِﻲ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻫِﻲَ ﺃَﺑْﺮَﺩُ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺜَّﻠْﺞِ ﻭَﺃَﻃْﻴَﺐُ ﺭَﺍﺋِﺤَﺔً ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤِﺴْﻚِ 

( ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ 3289 ، ).

“Dari Abi Juhaifah ia berkata, “Pada sebuah perjalanan, Rasulullah r melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar dua rakaat, sedangkan di depannya terdapat tongkat dan ada seorang perempuan yang berjalan di belakangnya. (setelah shalat) orang-orang berdiri memegang tangan Rasulullah dan menyentuhkannya ke wajah mereka. Akupun berdiri dan memegang tangan beliau dan menyentuhkannya ke wajahku. Maka aku merasakan tangan beliau lebih sejuk dari salju dan lebih harum dibandingkan minyak misik.” (Shahih al-Bukhari, [3289]). .

Dzikir Keras Setelah Salat

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas:

 ﺍِﻥَّ ﺭَﻓْﻊَ ﺍﻟﺼَّﻮْﺕِ ﺑِﺎﻟﺬِّﻛْﺮِ ﺣِﻴْﻦَ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻜْﺘُﻮْﺑَﺔِ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻛُﻨْﺖُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺇِﺫَﺍ ﺍﻧْﺼَﺮَﻓُﻮْﺍ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻪُ ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ )

”Sesungguhnya mengeraskan (bacaan) dzikir setelah para sahabat selesai melakukan salat wajib sudah ada sejak masa Nabi Muhammad Saw.” Ibnu Abbas berkata: “Saya mengetahui yang demikian setelah mereka melakukan salat wajib dan saya mendengarnya” (Bukhari)

MengKodo Shalat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ قَالَ مُحَمَّدٌ وَأَكْثَرُ ظَنِّي الْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى خَشَبَةٍ فِي مُقَدَّمِ الْمَسْجِدِ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا وَفِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ فَقَالُوا أَقَصُرَتْ الصَّلَاةُ وَرَجُلٌ يَدْعُوهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالَ أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ فَقَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ قَالَ بَلَى قَدْ نَسِيتَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَكَبَّرَ ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ فَكَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ

Rasul pernah mendirikan sholat Ashar dua raka’at, ketika beliau ditanya: Apakah sengaja meng’ghasar’ sholat atau anda lupa ?, Nabi menjawab: Saya tidak lupa dan juga tidak meng’ghasar’. Dikatakan kepada beliau; Sungguh anda telah sholat dua raka’at. Maka Rasul menambah dua raka’at dan menutupnya dengan sujud sahwi. (HR.Bukhari)


Wallahu'alam bisowab

Mengagungkan Orang Yang Sudah Wafat



meninggikan kuburan telah terjadi sejak masa salaf yang saleh. Berikut data-datanya:

عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِىِّ عَنِ الْمُطَّلِبِ قَالَ لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ أَمَرَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ – قَالَ كَثِيرٌ قَالَ الْمُطَّلِبُ قَالَ الَّذِى يُخْبِرُنِى ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ – كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَقَالَ « أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِى وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِى ».

“Dari Katsir bin Zaid al-Madani, dari al-Muththalib berkata: “Ketika Utsman bin Mzh’un meninggal, jenazahnya dikeluarkan, lalu dimakamkan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh seorang laki-laki membawakan sebuah batu besar. Ternyata laki-laki tersebut tidak mampu mengangkatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi batu tersebut, lalu membuka kedua lengannya. Katsir berkata: “Al-Muththalib berkata: “Telah berkata orang yang mengabarkan hal itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Seakan-akan aku melihat putihnya kedua lengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membuka keduanya, kemudian membawa batu itu, lalu menaruhnya di kepala kuburan itu dan beliau bersabda: “Aku tandai dengan batu itu, kuburan saudaraku, dan aku akan menguburkan keluargaku yang meninggal ke situ.” (HR. Abu Dawud [1641], Ibnu Majah [1651], Ibnu Abi Syaibah (3/334) dan al-Baihaqi (3/412).

Dalam hadits di atas, menunjukkan bolehnya menaruh tanda makam seseorang di atas tanah makamnya. Tanda tersebut tentu lebih tinggi dari permukaan tanah.

أخبرنا إبراهيم بن محمد عن جعفر بن محمد عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم رش على قبر إبراهيم ابنه ووضع عليه حصباء، والحصباء لا تثبت إلا على قبر مسطح

“Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Muhammad, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memercikkan air pada makam Ibrahim putranya, dan meletakkan kerikil-kerikil.” Imam al-Syafi’i berkata: “Kerikil tidak akan tetap kecuali di atas kuburan yang diratakan.” (Musnad al-Imam al-Syafi’i [599] dan al-Umm (1/273).

عَنِ الْقَاسِمِ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّهْ اكْشِفِى لِى عَنْ قَبْرِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَصَاحِبَيْهِ رضى الله عنهما فَكَشَفَتْ لِى عَنْ ثَلاَثَةِ قُبُورٍ لاَ مُشْرِفَةٍ وَلاَ لاَطِئَةٍ مَبْطُوحَةٍ بِبَطْحَاءِ الْعَرْصَةِ الْحَمْرَاءِ قَالَ أَبُو عَلِىٍّ يُقَالُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُقَدَّمٌ وَأَبُو بَكْرٍ عِنْدَ رَأْسِهِ وَعُمَرُ عِنْدَ رِجْلَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Al-Qasim berkata: “Aku memasuki rumah Aisyah, lalu berkata: “Wahai bunda, bukakanlah untukku makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kedua sahabatnya.” Lalu beliau membukakan untukku tiga makam, yang tidak terlalu tinggi dan tidak rata dengan tanah, dibentangkan dengan kerikil halaman yang merah.” (HR. Abu Dawud [1564]).

عَنْ سُفْيَانَ التَّمَّارِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ رَأَى قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَنَّمًا

“Sufyan at-Tammar telah bercerita telah melihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditinggikan (seperti punuk)”. (HR al-Bukhari dalam Shahih-nya [1390]).

وَقَالَ خَارِجَةُ بْنُ زَيْدٍ رَأَيْتُنِي وَنَحْنُ شُبَّانٌ فِي زَمَنِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَإِنَّ أَشَدَّنَا وَثْبَةً الَّذِي يَثِبُ قَبْرَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ حَتَّى يُجَاوِزَهُ

“Kharijah bin Zaid berkata: “Aku melihat diriku, ketika kami masih muda pada masa Utsman radhiyallahu ‘anhu, bahwa orang yang paling kuat lompatannya di antara kami, adalah dia yang mampu melompat makamnya Utsman bin Mahz’un, hingga melewatinya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya [1360]).

عن عبد الله بن أبي بكر قال رأيت قبر عثمان بن مظعون مرتفعا

“Abdullah bin Abi Bakar berkata: “Aku melihat kuburan Utsman bin Mazh’un, tinggi.” (HR Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf [11746]).

Dalam hadits di atas, menunjukkan bahwa makam ‘Utsman bin Mazh’un itu ditinggikan, sehingga menjadi tempat ujian kekuatan lompatan anak-anak pada masa mudanya Kharijah bin Zaid. Hal ini membuktikan bahwa tingginya makam Utsman bin Mazh’un tidak kurang dari lima atau enam jengkal.

istighatsah dengan para nabi dan wali yang sudah wafat. Berikut di antara dasar-dasarnya:

Hadits Ibn Umar

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ خَدِرَتْ رِجْلُهُ فَقِيْلَ لَهُ: اُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَكَأَنَّمَا نَشِطَ مِنْ عِقَالٍ. حديث صحيح رواه البخاري في الأدب المفرد (964)، والحافظ إبراهيم الحربي في غريب الحديث (2/673-674)، والحافظ ابن السني في عمل اليوم والليلة (ص/72-73)، وذكره ابن تيمية في كتابه الكلم الطيب (ص/88).

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika kaki beliau terkena mati rasa, maka salah seorang yang hadir mengatakan kepada beliau: “Sebutkanlah orang yang paling Anda cintai!” Lalu Ibn Umar berkata: “Ya Muhammad”. Maka seketika itu kaki beliau sembuh.”

Hadits shahih ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (hal. 324), al-Hafizh Ibrahim al-Harbi dalam Gharib al-Hadits (2/673-674), al-Hafizh Ibn al-Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah (hal. 72-73), dan dianjurkan untuk diamalkan oleh Ibn Taimiyah –ideolog pertama kaum Wahhabi–, dalam kitabnya al-Kalim al-Thayyib (hal. 88).

Hadits di atas menunjukkan bahwa sahabat Abdullan bin Umar radhiyallahu ‘anhuma melakukan tawassul dan istighatsah dengan menggunakan redaksi nida’ (memanggil) «يا محمد» yang artinya: «أدركني بدعائك يا محمد» (tolonglah aku dengan doamu kepada Allah wahai Muhammad). Hal ini dilakukan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Sehingga hadits ini menunjukkan bahwa ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat meskipun dengan menggunakan redaksi nida’ (memanggil), yang berarti nida’ al-mayyit (memanggil seorang nabi atau wali yang telah meninggal) bukanlah termasuk syirik.

Hadits Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu ‘anhu

عَنْ مَالِكٍ الدَّارِ، قَالَ : وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ عَلَى الطَّعَامِ، قَالَ : أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ، فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ ِلأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا، فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ : ائْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُ أَنَّكُمْ مَسْقِيُّوْنَ، وَقُلْ لَهُ : عَلَيْكَ الْكَيْسَ، عَلَيْكَ الْكَيْسَ، فَأَتَى عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ فَبَكَى عُمَرُ ثُمَّ قَالَ: يَا رَبِّ لاَ آلُوْ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. رواه ابن أبي شيبة في المصنف (12/31-32)، و ابن أبي خيثمة كما في الإصابة (3/484)، والبيهقي في دلائل النبوة (7/447) والخليلي في الإرشاد (1/313-314) ، وابن عبد البر في الاستيعاب (2/464)، وإسناده صحيح، وقد صححه الحافظ ابن كثير في البداية والنهاية (7/101) ، وصححه الحافظ ابن حجر في فتح الباري (2/495). وقال ابن كثير في جامع المسانيد – مسند عمر – (1/223) : إسناده جيد قوي. وأقر ابن تيمية بثبوته في اقتضاء الصراط المستقيم (ص/373) .

“Diriwayatkan dari Malik al-Dar, bendahara pangan Khalifah Umar bin al-Khaththab, bahwa musim paceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani) mendatangi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan: “Hai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh-sungguhlah melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (12/31-32), Ibn Abi Khaitsamah sebagaimana dalam al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (3/484), al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah (7/47), al-Khalili dalam al-Irsyad (1/313-314) dan al-Hafizh Ibn Abdilbarr dalam al-Isti’ab (2/464). Sanad hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (7/101) dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (2/495). Al-Hafizh Ibn Katsir juga mengatakan dalam kitabnya yang lain, Jami’ al-Masanid di bagian Musnad Umar bin al-Khaththab (1/223) bahwa sanad hadits ini jayyid dan kuat. Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, yang dimaksud laki-laki yang mendatangi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan melakukan tawassul dalam hadits ini adalah sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu ‘anhu.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al-Hafizh Waliyyuddin al-’Iraqi berkata ketika menguraikan maksud hadits:

أَنَّ مُوْسَى u قَالَ: رَبِّ أَدْنِنِيْ مِنَ اْلأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ وَأَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «وَاللهِ لَوْ أَنِّيْ عِنْدَهُ لأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَنْبِ الطَّرِيْقِ عِنْدَ الْكَثِيْبِ الْأَحْمَرِ».

“Sesungguhnya Nabi Musa u berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata:

وَفِيْهِ اسْتِحْبَابُ مَعْرِفَةِ قُبُوْرِ الصَّالِحِيْنَ لِزِيَارَتِهَا وَالْقِيَامِ بِحَقِّهَا، وَقَدْ ذَكَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لِقَبْرِ السَّيِّدِ مُوْسَى u عَلاَمَةً هِيَ مَوْجُوْدَةٌ فِيْ قَبْرٍ مَشْهُوْرٍ عِنْدَ النَّاسِ اْلآَنَ بِأَنَّهُ قَبْرُهُ، وَالظَّاهِرُ أَنَّ الْمَوْضِعَ الْمَذْكُوْرَ هُوَ الَّذِيْ أَشَارَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ.

“Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa yaitu pada makam yang sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Tharh al-Tatsrib, [3/303]).

Pada dasarnya ziarah kubur itu sunnat dan ada pahalanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : « كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا » رَوَاهُ مُسْلِمٌ (٧/٤٦). وَفِيْ رِوَايَةٍ « فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُوْرَ الْقُبُوْرَ فَلْيَزُرْ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُنَا اْلآَخِرَةَ».

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dulu aku melarang kamu ziarah kubur. Sekarang ziarahlah.” (HR. Muslim). Dalam satu riwayat, “Barangsiapa yang henda ziarah kubur maka ziarahlah, karena hal tersebut dapat mengingatkan kita pada akhirat.” (Riyadh al-Shalihin [bab 66]).

Di sini mungkin ada yang bertanya, adakah dalil yang menunjukkan bolehnya ziarah kubur dengan tujuan tabarruk dan tawassul? Sebagaimana dimaklumi, tabarruk itu punya makna keinginan mendapat berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan berziarah ke makam nabi atau wali. Kemudian para nabi itu meskipun telah pindah ke alam baka, namun pada hakekatnya mereka masih hidup. Dengan demikian, tidak mustahil apabila mereka merasakan datangnya orang yang ziarah, maka mereka akan mendoakan peziarah itu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «اَلاَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ» رواه البيهقي.

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Para nabi itu hidup di alam kubur mereka seraya menunaikan shalat.” (HR. al-Baihaqi dalam Hayat al-Anbiya’, [1]).

Sebagai penegasan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang telah wafat, dapat mendoakan orang yang masih hidup, adalah hadits berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «حَيَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ تُحْدِثُوْنَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ وَمَمَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ فَإِذَا أَنَا مِتُّ عُرِضَتْ عَلَيَّ أَعْمَالُكُمْ فَإِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ اللهَ وَإِنْ رَأَيْتُ غَيْرَ ذَلِكَ اِسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ » رَوَاهُ الْبَزَّارُ.

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Hidupku lebih baik bagi kalian. Kalian berbuat sesuatu, aku dapat menjelaskan hukumnya. Wafatku juga lebih baik bagi kalian. Apabila aku wafat, maka amal perbuatan kalian ditampakkan kepadaku. Apabila aku melihat amal baik kalian, aku akan memuji kepada Allah. Dan apabila aku melihat sebaliknya, maka aku memintakan ampun kalian kepada Allah.” (HR. al-Bazzar, [1925]).

Karena keyakinan bahwa para nabi itu masih hidup di alam kubur mereka, kaum salaf sejak generasi sahabat melakukan tabarruk dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau wafat. Hakekat bahwa para nabi dan orang saleh itu masih hidup di alam kubur, sehingga para peziarah dapat bertabarruk dan bertawassul dengan mereka, telah disebutkan oleh Syaikh Ibn Taimiyah berikut ini:

وَلاَ يَدْخُلُ فِيْ هَذَا الْبَابِ (أَيْ مِنَ الْمُنْكَرَاتِ عِنْدَ السَّلَفِ) مَا يُرْوَى مِنْ أَنَّ قَوْمًا سَمِعُوْا رَدَّ السَّلاَمِ مِنْ قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَوْ قُبُوْرِ غَيْرِهِ مِنَ الصَّالِحِيْنَ وَأَنَّ سَعِيْدَ بْنِ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَسْمَعُاْلأَذَانَ مِنَ الْقَبْرِ لَيَالِيَ الْحَرَّةِ وَنَحْوُ ذَلِكَ فَهَذَا كُلُّهُ حَقٌّ لَيْسَ مِمَّا نَحْنُ فِيْهِ وَاْلأَمْرُأَجَلُّ مِنْ ذَلِكَ وَأَعْظَمُ وَكَذَلِكَ أَيْضًا مَا يُرْوَى أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَشَكَا إِلَيْهِ الْجَدَبَ عَامَ الرَّمَادَةِ فَرَآهُ وَهُوَ يَأْمُرُهُ أَنْ يَأْتِيَ عُمَرَ فَيَأْمُرَهُأَنْ يَخْرُجَ فَيَسْتَسْقِي النَّاسُ فَإِنَّ هَذَا لَيْسَ مِنْ هَذَا الْبَابِ وَمِثْلُ هَذَا يَقَعُ كَثِيْرًا لِمَنْهُوَ دُوْنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَأَعْرِفُ مِنْ هَذِهِ الْوَقَائِعِ كَثِيْرًا. (الشيخ ابن تيمية، اقتضاء الصراط المستقيم ١/٣٧٣).

“Tidak masuk dalam bagian ini (kemungkaran menurut ulama salaf) adalah apa yang diriwayatkan bahwa sebagian kaum mendengar jawaban salam dari makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau makam orang-orang saleh, juga Sa’id bin al-Musayyab mendengar adzan dari makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada malam-malam peristiwa al-Harrah dan sesamanya. Ini semuanya benar, dan bukan yang kami persoalkan. Persoalannya lebih besar dan lebih serius dari hal tersebut. Demikian pula bukan termasuk kemungkaran, adalah apa yang diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang ke makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu mengadukan musim kemarau kepada beliau pada tahun ramadah (paceklik). Lalu orang tersebut bermimpi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyuruhnya untuk mendatangi Umar bin al-Khaththab agar keluar melakukan istisqa’ dengan masyarakat. Ini bukan termasuk kemungkaran. Hal semacam ini banyak sekali terjadi dengan orang-orang yang kedudukannya di bawah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan aku sendiri banyak mengetahui peristiwa-peristiwa seperti ini.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, juz. 1, hal. 373).

Kisah laki-laki yang datang ke makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam di atas, telah dijelaskan secara lengkap oleh al-Hafizh Ibn Katsir al-Dimasyqi, murid terkemuka Syaikh Ibn Taimiyah, dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah. Beliau berkata:

وَقَالَ الْحَافِظُ اَبُوْ بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ اَخْبَرَنَا اَبُوْ نَصْرٍ بْنُ قَتَادَةَ وَاَبُوْ بَكْرٍ الْفَارِسِيُّقَالَا حَدَّثَنَا اَبُوْ عُمَرِ بْنِ مَطَرٍ حَدَّثَنَا اِبْرَاهِيْمُ بْنُ عَلِيٍّ الذُّهْلِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُيَحْيَى حَدَّثَنَا اَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ اْلأَعْمَشِ عَنْ اَبِيْ صَالِحٍ عَنْ مَالِكٍ قَالَ اَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌفِيْ زَمَنِ عُمَرِ بْنِ الْخَطَّابِ فَجَاءَ رَجُلٌ اِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَيَارَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ اللهَ لِاُمَّتِكَ فَاِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا فَأَتَاهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْمَنَامِ فَقَالَ اِيْتِ عُمَرَ فَأَقْرِءْهُ مِنِّي السَّلاَمَ وَاَخْبِرْهُمْ اِنَّهُمْ مُسْقَوْنَ وَقُلْلَهُ عَلَيْكَ بِالْكَيْسِ الْكَيْسِ فَاَتَى الرَّجُلُ فَاَخْبَرَ عُمَرَ فَقَالَ يَارَبِّ مَا آَلُوْا اِلاَّ مَا عَجَزْتُعَنْهُ، وَهَذَا اِسْنَادٌ صَحِيْحٌ. (الحافظ ابن كثير، البداية والنهاية ٧/٩۲ وقال في جامع المسانيد ١/۲٣٣: اسناده جيد قوي، وروى هذا الحديث ابن ابي خيثمة. انظر: الاصابة ٣/٤٨٤، والخليلي في الارشاد ١/٣١٣ وابن عبد البر في الاستيعاب ۲/٤٦٤ وصححه الحافظ ابن حجر في “ فتح الباري “ ۲/٤٩٥.

“Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi berkata, Abu Nashr bin Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi mengabarkan kepada kami, Abu Umar bin Mathar mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Ali al-Dzuhli mengabarkan kepada kami, Yahya bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Malik al-Dar, bendahara pangan Khalifah Umar bin al-Khaththab, bahwa musim paceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani) mendatangi makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Hai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh-sungguhlah melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”. Sanad hadits ini shahih. (Al-Hafizh Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, juz 7, hal. 92. Dalam Jami’ al-Masanid juz i, hal. 233, Ibn Katsir berkata, sanadnya jayyid (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Khaitsamah, lihat al-Ishabah juz 3, hal. 484, al-Khalili dalam al-Irsyad, juz 1, hal. 313, Ibn Abdil Barr dalam al-Isti’ab, juz 2, hal. 464 serta dishahihkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, juz 2, hal. 495).

Apabila hadits di atas kita cermati dengan seksama, maka akan kita pahami bahwa sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu ‘anhu tersebut datang ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan tujuan tabarruk, bukan tujuan mengucapkan salam. Kemudian ketika laki-laki itu melaporkan kepada Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu, ternyata Umar radhiyallahu ‘anhu tidak menyalahkannya. Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu juga tidak berkata kepada laki-laki itu, “Perbuatanmu ini syirik”


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: اَلْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ “. رواه ابن حبان (١٩١٢) وأبو نعيم في “الحلية” (٨/١٧٢) و الحاكم في “المستدرك” (١/٦٢) و الضياء في “المختارة” (٦٤/٣٥/٢) و قال الحاكم : “صحيح على شرط البخاري” . و وافقه الذهبي.

“Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Berkah Allah bersama orang-orang besar di antara kamu.” (HR. Ibn Hibban (1912), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (8/172), al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/62) dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (64/35/2). Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai kriteria al-Bukhari, dan al-Dzahabi menyetujuinya.)

Al-Imam al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir, bahwa hadits tersebut mendorong kita mencari berkah Allah subhanahu wa ta’ala dari orang-orang besar dengan memuliakan dan mengagungkan mereka. Orang besar di sini bisa dalam artian besar ilmunya seperti para ulama, atau kesalehannya seperti orang-orang saleh. Bisa pula, besar dalam segi usia, seperti orang-orang yang lebih tua.

Syaikh Ibnu Taimiyah, juga menjelaskan kecintaan kepada Ahlul Bait dalam kitabnya al-‘Aqidah al-Wasithiyyah. Al-Imam al-Syafi’i sangat mencintai Ahlul-Bait (keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ). Kecintaan kepada mereka beliau lukiskan dalam tawassul melalui sebuah syair yang sangat indah dan diriwayatkan oleh al-Imam Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Shawa’iq al-Muhriqah (hal. 274):

آلُ النَّــِبيِّ ذَرِيْعَتِيْ وَهُمُ إِلَيْهِ وَسِــيْلَتِيْ

أَرْجُوْ بِهِمْ أُعْطىَ غَدًا بِيَدِي الْيَمِيْنِ صَحِيْفَتِيْ

Keluarga Nabi adalah pintu dan wasilahku kepada Allah

Aku berharap dengan mereka kelak memperoleh catatan amalku dengan tangan kananku

Syair al-Imam al-Syafi’i di atas juga diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Baihaqi dalam Manaqib al-Syafi’i dan al-Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitabnya.

Sayyidina Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata:

ارقبوا محمدا في اهل بيته

“Perhatikan dan muliakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui ahlul bait-nya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahihnya).

Kecintaan kepada Ahlul Bait juga diterangkan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.